Home » »

Written By Unknown on Rabu, 17 April 2013 | 21.05


                                                                                    
Reward dan Punishment

A.     Reward dan Punishment
1.     Pengertian Reward dan Punishment
Dalam jaringan rekayasa paedagogis harus merupakan upaya membuat anak mau dan dapat belajar atas dorongan sendiri untuk mengembangkan bakat, pribadi dan potensi secara optimal. Sehingga berkaitan dengan pemakaian reward (hadiah) dan Punishment (hukuman) sebagai salah satu teknik pendidikan yang sering dipergunakan. Dalam mendidik, harus mampu menjadikan anak didik berkembang sesuai fitrahnya bukan perbudakan otoritas pendidik pada diri anak yang mematikan inisiatif dan potensi.
Berikut akan dijelaskan mengenai ragam pengertian reward (hadiah) sebagai salah satu alat pendidikan sebagai pendorong motivasi belajar siswa, sebagaimana berikut.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia hadiah merupakan pemberian, hadiah, ganjaran ( karena memenangkan suatu perlombaan, pemberian, kenang- kenangan, penghargaan, penghormatan, tanda kenang- kenangan tentang perpisahan  cendera mata ( Anwar, 2001: 162).
Sedangkan Suharsimi Arikunto, menjelaskan hadiah adalah sesuatu yang diberikan kepada orang lain karena sudah bertingkah laku sesuai dengan yang dikehendaki yakni mengikuti peraturan sekolah dan tata tertib yang sudah ditentukan (Arikunto, 1980: 182).
Dalam teori teori pembelajaran dikenal efek yang dirasakan oleh seseorang sebagai sesuatu yang menyenangkan, maka efek tersebut disebut sebagi Reward  atau hadiah ( Sriyanti, dkk., 2009: 72).
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi, tetapi tidaklah selalu demikian, karena hadiah untuk suatu pekerjaan mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat untuk sesuatu pekerjaan tersebut. Contohnya hadiah yang diberikan untuk gambar yang terbaik mungkin tidak akan menarik bagi seseorang siswa yang tidak memiliki bakat menggambar. Pemberian hadiah dapat meningkatkan motivasi berprestasi siswa, sehingga dengan motivasi berprestasi itu prestasi belajar siswa akan meningkat sebab motifasi adalah syarat mutlak untuk belajar  (Purwanto, 1990: 60).
Dari beberapa pengertian di atas, dapat diambil satu kesimpulan bahwa pemberian hadiah merupakan salah satu bentuk alat pendidikan dalam proses pembelajaran yang dilakukan guru untuk anak didik sebagai satu pendorong, penyemangat dan motivasi agar anak didik lebih meningkatkan prestasi hasil belajar sesuai yang diharapkan. Dan diharapkan dari pemberian hadiah tersebut muncul keinginan dari di anak untuk lebih membangkitkan minat belajar yang tumbuh dari dalam diri siswa sendiri.
Selanjutnya akan dipaparkan juga mengenai beberapa definisi hukuman yang juga sebagai salah satu alat pendidikan sekaligus sebagai bentuk atas konsekuensi tingkah laku yang sudah dilakukan menurut beberapa pandangan ahli pendidikan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia hukum adalah peraturan ysng dibuat oleh suatu kekuasaan atau adat yang yang dianggap berlaku oleh dan untuk orang banyak (Anwar, 2001: 172). Artinya bahwa hukuman suatu aturan yang dibuat untuk mengatur pergaulan hidup dalam hal ini pergaulan hidup siswa yang berada disekolah.
Sedangkan menurut Ngalim Purwanto, menjelaskan hukuman adalah penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh seseorang (orang tua, guru) sesudah terjadi suatu pelanggaran, kejahatan atau kesalahan (Purwanto, 1995: 186).
Dari beberapa definisi di atas, dapatlah disimpulkan bahwa hukuman adalah pemberian penderitaan atau penghilangan stimulasi oleh pendidik sesudah terjadi pelanggaran, kejahatan atau kesalahan yang dilakukan anak didik. Hukuman juga dapat dikatakan sebagai penguat yang negatif, tetapi kalau hukuman itu diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Karena pada dasarnya sebuah hukuman akan menjadikan efek berupa perilaku, dalam hal ini apabila efek yang berdifat tidak menyenangkan kepada siswa maka efek ini disebut sebagai Punishment atau hukuman (Sriyanti, dkk., 2009: 72 ).
Penggerakan motivasi belajar didasarkan atas prinsip-prinsip memberikan hadiah (reward) akan lebih efektif dibandingkan dengan hukuman (punishment). Namun, sebagai alat pendidikan yang sering digunakan pendidik untuk memacu prestasi anak didik, dalam penerapannya haruslah sesuai dengan konsekuensinya.
Menurut Suharsimi Arikunto ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam memberikan hadiah kepada siswa yaitu :
1.             Hadiah hendaknya disesuaikan dengan keadaan dan sifat dari aspek yang menunjukkan keistimewaan prestasi.
2.             Hadiah harus diberikan langsung sesudah perilaku yang dikehendaki dilaksanakan.
3.             Hadiah harus diberikan sesuai dengan kondisi orang yang menerimanya.
4.             Hadiah yang harus diterima anak hendaknya diberikan. Hadiah harus benar-benar berhubungan dengan prestasi yang dicapai oleh anak.
5.             Hadiah harus diganti (bervariasi).
6.             Hadiah hendaknya mudah dicapai.
7.             Hadiah harus bersifat pribadi.
8.             Hadiah sosial harus segera diberikan.
9.             Jangan memberikan hadiah sebelum siswa berbuat.
10.         Pada waktu menyerahkan hadiah hendaknya disertai penjelasan rinci tentang alasan dan sebab mengapa yang bersangkutan menerima hadiah tersebut (Arikunto, 1991: 163).
Pada waktu menyerahkan hadiah hendaknya disertai penjelasan rinci tentang alasan dan sebab mengapa yang bersangkutan menerima hadiah tersebut. Oleh karena itu pemberian hukuman tidak serta merta sebagai suatu tindakan balas dendam antara guru dan anak didik yang tidak bisa mencapai harapan yang diinginkan, namun guru harus memahami segala bentuk prinsip-prinsip pemberian hukuman sebagai sangsi kependidikan.hukuman dimaknai sebagai sesutau yang dapat dijadikan sebuah pelajaran bagi anak. Hukuman perlu diberikan kepada anak, mengapa demikian ? di bawah ini akan diuraikan mengapa hukuman menjadi penting untuk dilakukan :
1.      Agar tidak mengualang kejadian yang sama.
Pada dasarnya anak memiliki rutinitas yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari dengan adanya rutinitas yang dilakukan anak, maka kemudian akan menjadikan anak lalai, faktor lalai ini yang menyebabkan seorang anak menjadi lalai (El-Ghani, 2009: 52). Andaikata anak melakukan kesalahan satu ataupun dua kali mungkin bisa dimaklumi, namun jika anak melakukan berulang kali, maka hukuman menjadi pilihan dan harus dilakukan agar anak jera (kapok) untuk melakukan kesalahan  yang sama (El-Ghani, 2009: 53).
2.      Bisa mengambil pelajaran dan hikmah.
Kesalahan bagaimanpun juga akan menjadikan anak bisa mengambil tentang peristiwa yang dihadapinya (El-Ghani, 2009: 54). Dengan pemberian hukuman kepada anak ada harapan bahwa anak akan menjadi hati-hati dan sebagai pelajaran yang akan datang agar tidak mengulang peristiwa yang pernah dialaminya.
3.      Konsistensi sebuah perjanjian.
Hukuman yang baik pada dasarnya adalah sebuah konsekuensi dari perjajian dari seorang guru terhadap murid, jika anak berbuat salah maka seorang anak akan mendapatkan hukuman baiknya lagi anak yang melakukan kesalahan mau mengakui dan menyediakan diri untuk di hukum tanpa seorang guru yang mendesak untuk melakukan hukuman (El-Ghani, 2009: 56).
2.    Tujuan pemberian Reward dan Punishment
a.    Tujuan pemberian reward
Pemberian hadiah atau reward sangat berarti bagi anak yaitu paling tidak dengan adanya hadiah anak akan menjadi percaya diri meskipun  pemberian hadiah oleh pendidik tidak selamanya bersifat baik, namun tidak menutup kemungkinan bahwa pemberian hadiah merupakan satu hal yang bersifat positif. Armai Arief  berpendapat pada implikasi pemberian hadiah yang bersifat negatif apabila pelaksanaan pemberian hadiah dipakai sebagai berikut :
a)      Menganggap kemampuannya lebih tinggi dari teman-temannya atau temanya dianggap lebih rendah.
b)      Dengan pemberian hadiah membutuhkan alat tertentu serta membutuhkan biaya.
c)      Dapat menjadi pendorong bagi anak didik lainnya untuk mengikuti anak yang memperoleh hadiah dari gurunya, baik dalam tingkah laku, sopan santun, semangat dan motivasinya dalam berbuat yang lebih baik ( Arif, 2002: 128).
Pemberian reward akan sangat bermanfaat bagi peserta didik terutama dalam memberikan stimulus yang bersifat baik, dengan adanya reward akan berdampak pada siswa yaitu memberikan semangat baru untuk melakukan kegiatan yang akan diberikan, sebagai contoh misalnya ketika anak melakukan hadiah atas prestasi yang diberikan kepada guru maka anak akan terangsang untuk melakukan hal yang sama. Pemakaian hadiah akan lebih tepat dan berguna bila dalam pelaksanaannya selalu menyesuaikan kondisi, dimana memang pemberian hadiah itu harus dilakukan oleh seorang guru sebagai motivator belajar anak didik. Pemberian hadiah adalah bentuk reinforcement atau penguatan yang positif dan sekaligus merupakan motivsi berprestasi maka pemberiannya harus tepat dana disesuaikan dengan kondisi anak, menurut Marno ada beberapa tujuan pemberian Reward sebagai reinforcement penguatan diantaranya adalah sebagai berikut :
1.         Menigkatkan perhatian siswa dalam proses belajar mengajar.
2.         Membangkitkan, memelihara, dan meningkatkan motivasi belajar
       siswa.
3.         Mengarahkan pengembangan berfikir siswa kearah berfikir divergen
4.         Mengendalikan serta memodifikasi tingkah laku siswa yang kurang    positif serta mendorong munculnya tingkah laku yang produktif (Marno dan Idris, 2008: 133).
       Dari beberapa tujuan diatas menjadi sangat jelas bahwa reward diberikan kepada anak agar menjadi motifasi karena pemberian hadiah kepada anak akan berdampak besar manfaatnya sebagai pendorong dalam belajar (Hamalik, 2001: 167).
b.     Tujuan Pemberian Punisment (Hukuman )
Selanjutnya pembahasan mengenai hukuman yang juga salah satu metode penerapan konsekuensi anak didik yang tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan. Hukuman terpaksa diberikan, namun dalam penerapannya  harus mempertimbangkan syarat-syarat sebagai berikut:
1.    Dasarnya tindakan harus kasih sayang dan rasa tanggung jawab, bukan karena alasan dendam atau pembalasan. Karena itu, jangan menghukum anak pada saat pendidik sedang marah (terganggu emosinya).
2.    Tujuan hukuman adalah untuk perbaikan tingkah laku atau sifat-sifat yang kurang baik dan terutama untuk kepentingan peserta didik di masa yang akan datang.
3.    Hukuman yang edukatif akan menimbulkan rasa menyesal pada subyek didik, bukan menimbulkan rasa sakit hati atau dendam kesumat. Penyesalan atas diri sendiri dibarengi dengan kesadaran anak bahwa hukuman ini juga terpaksa menimbulkan rasa kurang enak pada pendidik akibat perbuatannya, merupakan pertanda bahwa hukuman tersebut diterima secara sewajarnya oleh peserta didik.
4.    Hukuman harus diakhiri dengan pemberian maaf oleh pendidik kepada peserta didik. Setelah peserta didik menunjukkan penyesalannya segera hubungan edukatif antara pendidik dan peserta didik harus dipulihkan, dengan berbagai sikap dan kata-kata pendidik yang menunjukkan bahwa dia telah menerima kembali peserta didik ini seperti sediakala (Draf makalalah, 2007).
3.        Macam –macam Reward dan Punishment
a.         Macam –macam reward (hadiah).
Banyak sekali kriteria untuk menentukan reward (hadiah) macam apakah yang baik diberikan kepada anak memang suatu hal yang sangat sulit. Hadiah sebagai alat pendidikan banyak sekali macamnya. Ada beberapa macam hadiah yang diberikan anak didik yaitu hadiah yang berupa benda-benda yang menyenangkan dan berguna bagi anak-anak misalnya: pensil, buku tulis. Guru memberikan kata yang menggembirakan (pujian) misalnya tulisanmu sudah baik, tetapi kalau kamu terus belajar tentu akan lebih baik lagi, guru mengangguk-ngangguk tanda senang dan membenarkan suatu jawaban yang diberikan oleh seorang anak. Beberapa hadiah dipakai dalam pembelajaran menurut Oemar hamalik adalah sebagai berikut :
a)         Memberi Angka.
Dalam motivasi belajar ada istilah yang digunakan seorang guru dalam memberikan reward (hadiah) sebagai syarat untuk meningkatkan motivasi belajar, umumnya seorang siswa ingin mengetahui hasil pekerjaanya yakni angka yang diberikan guru, dengan adanya angka ini murid yang mendapatkan angka baik akan mendorong motivasi belajarnya menjadi lebih besar begitu juga sebaliknya murid yang mendapatkan angka kurang, mungkin menimbulkan frustasi dan menjadikan pendorong agar beljar lebih baik (Hamalik, 2001: 166).
Angka sebagai simbol kegiatan belajar, artinya  angka yang dimaksud berupa bonus nilai/tambahan nilai bagi siswa yang mengerjakan tugas dengan baik. Salah satu contohnya adalah pada saat siswa mengerjakan tugas dengan baik, guru memberikan bonus nilai kepada siswa tersebut. Secara tidak langsung hal tersebut dapat memotivasi siswa yang lain untuk mengerjakan tugas juga, supaya mendapat bonus nilai. Selain sebagai motivasi berprestasi bonus nilai secara tidak langsung juga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
b)        Pujian
Pemberian pujian menurut Oemar Hamalik merupakan bentuk Reward dimana pemberian pujian kepada murid atas hal-hal yang telah dilakukan dengan berhasil besar manfaatnya sebagai pendorong dalam belajar (Hamalik, 2001: 167). Pemberian pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivsi berprestasi maka pemberiannya harus tepat. Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi gairah belajar serta sekalus akan membangkitkan harga diri siswa sehingga prestasi belajar siswa ikut meningkat.
c)         Pemberian Hadiah.
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi berprestasi. Sebagian siswa merasa senang dan bangga apabila dia diberikan hadiah atas prestasinya yang baik atau nilai yang baik disekolah oleh guru mereka maupun orangtua. Cara ini juga dapat dilakukan oleh guru dalam batas-batas tertentu misalnya ketika siswa diakhir tahun yang mendapat atau menunjukan hasil belajar yang baik (Hamalik, 2001: 167). Sedangkan Suharsimi Arikunto membagi hadiah menjadi beberapa bagian :
a)         Peringkat dan simbul-simbul lain
Menurut Arikunto bentuk hadiah yang paling lazim digunakan adalah peringkat huruf ataupun angka meskipun simbul-simbul lain seperti tanda-tanda bintang, centang, tanda benar dan lain-lain kadang-kadang juga digunakan untuk siswa siswi sekolah dasar maupun menegah (Arikunto, 1980: 160).
b)        Penghargaan
Reward atau hadiah ini dapat berupa berbagai hal yang intinya dalam penghargaan ini adalah adanya “ perhatiaan” kepada siswa (Arikunto, 1980: 161).
c)         Hadiah berupa kegiatan
Ada kalanya suatu pekerjaan tugas ataupun kegiatan-kegiatan lain akan merupakan dambaan siswa sehingga hadiah berupa kegiatan ini siswa menjadi tertarik untuk melakukan (Arikunto, 1980: 161).
d)        Hadiah berupa benda
Dalam pemberian hadiah ini yaitu adanya pemberian berupa benda-benda yang diperkirakan mengandung nilai-nilai bagi siswa, misalnya makanan, uang dan lain-lain (Arikunto, 1980: 164).  Menurut Edy Siswanto ada 2 macam reward (hadiah) yaitu :
1.      Berupa ucapan.
Guru dalam menyampaikan ilmunya tidak luput dari kesalahan, demikian juga siswa di kelas. Perlunya guru meminta maaf disetiap akhir pelajaran tentunya membuat murid juga akan merasakan pentingnya ucapan tersebut. Lebih penting lagi untuk diperhatikan adalah penghargaan terhadap setiap tindakan / aktivitas anak. Contohnya : baik, pekerjaanmu bagus, perlu ditingkatkan, seratus untuk anda, coba mari kita kerjakan bersama, hal ini perlu sekali dilakukan baik berupa pujian maupun harapan dan saran ( Edy Siswanto, www. blogspot. Com).
2.      Berupa tindakan
a)Pemberian poin atau nilai
b)      Menepuk punggung siswa dengan berkata bagus-bagus
c)Membubuhkan tanda tangan
d)     Memberikan secarik tulisan berupa saran dan kritik yang membangun serta harapan
e)      Memberikan pengumuman bagi pemenang disertai tepuk tangan temannya
f)       Memberikan hadiah berupa buku / pensil atau uang dsb ( Edy Siswanto, www. blogspot. Com).
b.         Macam-macam punishment ( hukuman )
Salah satu yang harus dipahami bagi seorang guru ataupun pendidik adalah adanya kesepahaman bersama tentang anak-anak, dimana anak-anak adalah pribadi yang unik, keunikan ini mengharuskan para guru untuk bersikap lebih toleran dengan segala polah dan tingkah mereka, baik yang lucu menggemaskan sampai dengan yang menjengkelkan.
Bentuk-bentuk hukuman yang ada diberikan kepada siswa sesuai dengan kesalahan atau pelanggaran yang diperbuat. Bagi siswa yang suka ramai dapat dipisahkan tempat duduknya di pojok kelas atau disuruh keluar kelas, siswa yang tidak mengerjakan tugas dapat diberikan tugas berlipat dan pengurangan nilai, siswa yang terlambat mengumpulkan tugas digunakan denda dan siswa yang sering kali melanggar peraturan, maka tidak dapat diampuni kesalahannya maka diberikan hukuman diskors (Arikunto, 1980: 176).
Ada beberapa punishment (hukuman) dalam kaitanya dengan pembelajaran menurut Suharsimi Arikunto jenis-jenis hukuman antara lain :
1.    Pengurangan Skor atau Penurunan Peringkat
Hukuman untuk jenis ini merupakan hukuman yang paling banyak dipraktekan di sekolah (Arikunto, 1980: 174). Terutama diterapkan ketika siswa terlambat datang, tidak atau terlambat mengumpulkan tugas.
2.    Pengurangan Hak
Hukuman jenis ini merupakan hukuman yang paling efektif karena dapat digunakan sebagai selera siswa. Dalam hukuman ini memang harus ada pengawasan yang ketat dari pendidik atau guru sehingga dapat memilihkan pengurangan yang tepat bagi setiap siswa (Arikunto, 1980: 174).
3.    Hukum Berupa Denda
Dalam hukuman ini bukan hukuman yang berupa uang namun hukuman ini lebih banyak memberikan makna “ pembayaran “ (Payment) (Arikunto, 1980: 17).
4.    Pemberian Celaan
Dalam hukuman ini digabungkan dengan hukuman yang lainya siswa yang melanggar peraturan penting yang diperuntukan yang diperuntukan bagi siswa akan mendapat celaan. Hukuman ini guru menuliskan kesalahan siswa dalam buku catatan khusus atau keanehan (anecdotal record) (Arikunto, 1980: 175).
5.    Penahanan Sesudah Sekolah
Hukuman  ini hanya dapat diberikan apabila siswa disuruh tinggal di sekolah setelah jam usai dan ditemani oleh guru (Arikunto, 1980: 175).
                      Sedangkan menurut Arini El-Ghani kaitanya dengan macam-macam hukuman ada beberapa langkah praktis dalam menghukum anak.
a.    Dalam memberi hukuman hendaknya mampu memberi contoh atau tauladan.
                        Dalam memberikan hukuman alangkah baiknya diberikan contoh sebab dengan pemberian contoh seorang anak/siswa akan melihat kesungguhan kita dan akan berusaha mencontoh atau meniru apa yang dicontohkan guru ( El-Ghani, 2009: 77).
b.    Minta maaf kepada yang bersangkutan.
                        Dalam langkah ini meminta maaf adalah langkah awal dan paling pertama yang harus dilakukan (El-Ghani, 2009: 78).
c.    Memunculkan rasa tanggungjawab.
                        Tanggungjawab merupakan wujud jiwa yang besar, artinya anak akan belajar bahwa perbuatan apapun akan mengandung resiko baik resiko besar maupun kecil dan dengan apa yang dilakukan maka akan siap mengambil konsekwensi atyaupun seluruh akibat dan yang pasti harus mempertanggungjawabkan perbuatanya (El-Ghani, 2009: 81).
d.   Berjanji tidak akan mengulangi.
                        Dalam berjanji tidak akan mengulangi memiliki konsekwensi bahwa dalam diri anak harus ada penanaman berjanji kepada dirinya sendiri sehingga siswa atau anak tidak melakukan kesal;ahan mengulangi perbuatan yang serupa atau kedua, ketiga atau bahkan ke empat kalinya (El-Ghani, 2009: 82).
4.        Fungsi Reward dan Punishment
       Tujuan pemberian hadiah sama dengan tujuan penerapan hukuman yaitu membangkitkan perasaan dan tanggung jawab. Dan hadiah juga bertujuan agar anak lebih giat lagi usahanya untuk memperbaiki dan mempertinggi prestasinya (Arifin, 1996: 217).
          Teknik reward (hadiah/ganjaran) merupakan teknik yang dianggap berhasil menumbuhkembangkan minat siswa. Pemberian penghargaan dapat membangkitkan minat anak untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu. Di mana tujuan pemberian penghargaan adalah membangkitkan atau mengembangkan minat. Jadi, penghargaan berperan untuk membuat pendahuluan saja. Penghargaan adalah alat, bukan tujuan, hendaknya diperhatikan jangan sampai penghargaan ini menjadi tujuan. Tujuan pemberian pengharagaan dalam belajar adalah bahwa setelah seorang menerima pengharagaan karena telah melakukan kegiatan belajar dengan baik, ia akan terus melakukan kegiatan belajarnya sendiri di luar kelas (Hamalik, 2000: 184).
       Sebaliknya bila seorang belajar untuk mencari penghargan berupa hadiah dan sebagainya, ia didorong oleh motivasi ekstrinsik, oleh sebab tujuan-tujuan itu terletak di luar perbuatan itu, yakni tidak terkandung di dalam perbuatan itu sendiri. “The goal is articially introduced”. Tujuan itu bukan sesuatu yang wajar dalam kegiatan. Anak-anak didorong oleh motivasi intrinsik, bila mereka belajar agar lebih sanggup mengatasi kesulitan-kesulitan hidup, agar memperoleh pengertian, pengetahuan, sikap baik, penguasaan kecakapan. Hasil-hasil itu sendiri telah merupakan hadiah. “The reward of a thing well done is to have done it” (Emerson). Ganjaran bagi sesuatu yang dilakukan dengan baik telah melakukannya. Membangkitkan motivasi tidak mudah. Untuk itu perlu mengenal murid dan mempunyai kesanggupan kreatif untuk menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan dan minat anak (Nasution, 2000: 78).
B.      Minat Belajar Siswa
1.    Pengertian Minat belajar
a.         Pengertian Minat
   Banyak sekali, bahkan sudah umum orang menyebut dengan minat untuk menunjuk orang melakukan sesuatu. Istilah minat menunjuk kepada semua gejala yang terkandung dalam stimulasi tindakan ke arah tujuan tertentu di mana sebelumnya tidak ada gerakan menuju ke arah tujuan tersebut. Sebagaimana gambaran mengenai batasan minat, akan penulis kutip dari beberapa pendapat, yaitu :
Dalam kamus besar bahasa Indonesia minat adalah perhatian atau kesukaan atau bisa dikatakan sebagai kencenderungan hati (Anwar, 2001: : 280). Sedangkan menurut Muhibin Syah minat adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu (Muhibin Syah, 2010: 152). Menurut Reber (1988) sebagaimana yang dikutip oleh Muhibbin Syah mengatakan bahwa, minat tidak termasuk istilah populer dalam psikologi karena ketergantungannya yang banyak pada faktor-faktor internal lainnya seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan
Menurut Oemar Hamalik bahwa minat adalah sesuatu yang sangat penting dalam pengajaran, dalam hal ini guru memiliki tugas yang sangat berat yaitu bagaimana guru mampu memberikan kepada siswa untuk mau dalam belajar. Secara tegas bahwa minat dipandang sebagi sebuah proses (Hamalik, 2001: 158).
Sedangkan minat juga bisa dikatakan sebagai motifasi maka dalam pengertianya adalah minat atau motifasi adalah segala tenaga yang dapat membagkitkan atau mendorong seseorang untuk melakukan suatu perbuatan, sebagai contoh misalnya ketika seorang yang tidak mau belajar hal itu karena tidak ada motifasi atau keinginan atau bahkan tidak ada minat untuk belajar, maka seorang guru harus dapat melakukan perbuatan belajar, dengan adanya motifasi yang kuat dalam proses belajar mengajar dalam pembelajaran akan menimbulkan minat, moral yang baik, belajar yang efektif, sehingga dengan demikian anak telah mencapai sesuatu yang realistis (Soetomo, 1993: 141).
          Bertolak dari berbagai batasan di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa minat adalah suatu dorongan yang ditunjukkan untuk menggerakkan seseorang (individu), sehingga ia mampu bertindak atau bertingkah laku guna mencapai tujuan tertentu ataupun untuk memperoleh hasil yang diinginkan.
Minat dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi sesuatu, sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar, tetapi motivasi itu adalah tumbuh di dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberi arah kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki subyek belajar dapat tercapai.
b.        Pengertian Belajar
Sedangkan mengenai pengertian belajar ini sangat komplek sekali, sehingga bila kita ingin mencari jawaban tentang apakah belajar itu, maka akan ditemukan beberapa definisi yang berbeda-beda yang dirumuskan oleh banyak ahli. Dalam rangka pemahaman mengenai makna belajar, akan dikemukakan beberapa pendapat mengenai definisi belajar, sebagai berikut :
Definisi belajar menurut Lilik Sriyanti, dkk., dalam teori-teori pembelajaran adalah :
1)        Crow and Crow dalam Education psycology (1984) belajar adalah perbuatan untuk memperoleh kebiasaan, ilmu pengetahuaan, dan berbagai sikap, termasuk penemuaan baru dalam mengerjakan sesuatu, usaha memecahkan rintangan, dan menyesuaikan dengan situasi baru (Sriyanti, dkk., 2009: 22).
2)        Menurut cronbach dalam teori-teori pembelajaran yang mengambil dalam bukunya Education Psychology mengemukakan “ learning is shown by a change in behavior as result of experience (Sriyanti, dkk., 2009: 22).
Kesimpulan dalam penjelasan belajar adalah perubahan dalam prilaku, sikap, dan kepribadian hasil dari pengalaman tetapi karena interaksi dengan lingkungan.
3)        Menurut Gregory A Kimble dalam teori-teori pembelajaran yang mendefinisikan belajar sebagai berikut “ learning is a relatively permanent change in behavior or in behaviora potentiality that result from experience and canot be attributed to temporary body states such as those induced by illnes, fatigue, or drugs”.yang secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai berikut “ belajar adalah perbuatan relatif permanen dalam tingkah laku atau potensi prilaku yang diperoleh dari pengalaman dan tidak berhubungan dengan kondisi kondisi tubuh pada saat tertentu semacam penyaki, kelelahan, atau obat-obatan.  (Sriyanti, dkk., 2009: 23).
4)        Menurut Sumadi Suryabrata dalam teori pembelajaran, hal-hal pokok dalam definisi pembelajaran adalah :
a)        Bahwa belajar itu membawa perubahan baik yang aktual maupun potensial.
b)        Bahwa perubahan itu pada pokoknya mendapatkan kecakapan baru.
c)        Bahwa perubahan itu terjadi karena adanya usaha/disengaja (Sriyanti, dkk., 2009: 24).
5)        Sedangkan Muhibin Syah dalam Psikologi Belajar mendefinisikan belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Artinya bahwa tingkah laku yang timbul akibat proses kematangan fisik, keadaan mabuk, lelah, dan jenuh, tidak dipandang sebagai proses belajar (Syah, 2010: 68).
6)        Penegertian belajar menurut Soetomo adalah suatu proses yang menyebabkan perubahan tingkah laku, yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebiasaan, kecakapan, bertambahpengetahuaan, berkembang daya fikir sikap dan lain-lain (Soetomo, 1993: 120).
7)        Oemar Hamalik menyimpulkan tentang belajar adalah :
a)             Situasi belajar harus bertujuan, dan tujuan itu dapat diterima masyarakat.
b)            Tujuan dan maksud belajar timbul dari kehidupan anak sendiri.
c)             Didalam mencapai tujuan murid akan menemukan kesulitan, rintangan dan situasi-situasi yang tidak menyenagkan.
d)            Hasil belajar yang utama adalah pola tingkah laku yang  bulat.
e)             Proses belajar sebenarnya terutama mengerjakan hal-hal yang sebenarnya.
f)             Kegiatan dan hasil belajar dipersatukan dihubungkan dengan tujuan dalam situasi belajar.
g)            Murid memberikan reaksi secara keseluruhan (Hamalik, 2001: 28).
8)        Secara sederhana belajar diartikan sebagai suatu proses yang terjadi karena adanya usaha untuk mengadakan perubahan terhadap diri manusia yang melakukan, dengan maksud memperoleh perubahan dalam dirinya baik berupa pengetahuaan, ketrampilan, ataupun sikap, dan di dalam setiap belajar selalu ada usaha berupa latihan (Arikunto, 1980: 19).
9)        Belajar juga dapat diartikan sebagai proses orang memperoleh berbagai kecakapan, ketrampilan, dan sikap. Belajar mulai dalam masa kecil ketika bayi memperoleh sejumlah ketrampilan sederhana seperti memegang botol susu dan mengenal ibunya ( Gredler, 1991: 1)
Demikianlah beberapa definisi tentang belajar yang telah dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Kalau kita memperhatikan beberapa definisi belajar di atas, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa, walaupun beberapa ahli pendidikan memberikan definisi belajar yang berbeda-beda, namun pada hakekatnya di dalam definisi itu terdapat kesepakatan, bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku seseorang.
1.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Perbuatan belajar (hasil dari ekspresi pengolahan informasi) adalah suatu proses atau usaha untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Proses belajar itu dihayati masing-masing orang (pribadi) yang berbeda-beda. Ada yang belajar lebih mudah dan cepat, tetapi ada yang mengalami kesulitan, yang kesemuanya ini menyebabkan perbedaan prestasi belajar dikarenakan ada faktor-faktor yang mempengaruhi.
       Ada faktor-faktor yang mempengaruhi belajar yang penulis maksudkan dapat digolongkan sebagai berikut:
a.         Faktor Internal (faktor dari dalam siswa )
Faktor internal adalah faktor yang menyangkut seluruh faktor diri pribadi termasuk fisik maupun mental atau psiko fisiknya yang ikut menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam belajar. Atau keadaan / kondisi jasmani dan rohani siswa (Syah, 2010: 145).
b.     Faktor Eksternal (faktor dari luar siswa )
Faktor ekternal ialah faktor yang bersumber dari luar individu yang bersangkutan, misalnya ruangan kerja, atau ruangan belajar yang tidak memenuhi syarat, alat-alat pelajaran yang kurang memadai lingkungan-lingkungan dan sosial. Secara jelas faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar siswa / kondisi lingkungan di sekitar siswa (Syah, 2010: 145).
Kedua faktor tersebut mempengaruhi seseorang dalam belajar, maksudnya dapat mendorong atau menghambat seseorang dalam belajar.sehingga kedua faktor tersebut menjadi faktor yang dapat menghambat/atau memberikan motivasi dalam belajar.
c.      Faktor Pendekatan belajar (Approch to learning )
           yaitu jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pembelajaran.
          Faktor –faktor di atas sering kali dalam batas-batas tertentu memiliki kaitan dan mempengaruhi satu sama lain, seorang siswa yang bersikap yang bersikap Conservasing terhadap ilmu pengetahuaan atau bermotif ekstrinsik (Faktor eksternal) umpamanya, biasanya cenderung mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tidak mendalam. Sebaliknya seorang siswa yang memiliki Inteligensi tinggi (faktor internal) dan mendapat dorongan dari orangtuanya (faktor eksternal) mungkin akan memperoleh pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil pembelajaran. Sehingga dengan munculnya teori-teori ini muncullah siswa-siswa yang High-achievers.(berpretasi tinggi) dan under-achievers berprestasi rendah. Atau gagal sama sekali (Syah, 2010: 146).
          Dalam kaitanya dengan faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran ada beberapa faktor yang dapat memperjelas dalam pembelajaran di antaranya adalah sebagai berikut :
1)    Faktor-faktor Non-Sosial dalam Belajar
                 Kelompok faktor-faktor ini boleh dikata juga tak terbilang jumlahnya, misalnya: keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu (pagi atau siang ataupun malam), tempat (letaknya, pergedungannya), alat-alat yang dipakai untuk belajar (seperti alat tulis-menulis, buku-buku, alat-alat peraga, dan sebagainya yang biasa kita sebut alat-alat pelajaran).
         Semua faktor tersebut harus diuraikan sedemikian rupa, sehingga membantu (menguntungkan) proses atau perbuatan belajar secara maksimal.
2)   Faktor-faktor Sosial dalam Belajar
          Yang dimaksud dengan faktor-faktor sosial di sini adalah faktor manusia (sesama manusia), baik manusia itu ada (hadir) maupun kehadirannya itu dapat disimpulkan, jadi tidak langsung hadir. Kehadiran orang atau orang-orang lain pada waktu seseorang sedang belajar, banyak kali mengganggu belajar itu (Suryabrata, 2002: 249).
Kemudian adapula faktor-faktor dari dalam yang mempengaruhi proses belajar adalah sebagai berikut :
a.   Faktor Fisiologis
Kondisi jasmani seseorang pada umumnya dapat dikatakan melatar belakangi siswa, baik kondisi tersebut sudah optimal atau belum. Keadaan jasmani seseorang yang sehat akan berpengaruh, lain dengan orang yang kondisinya tidak sehat. Hal ini juga berpengaruh kepada kegiatan belajar siswa. Juga dalam panca indra karena panca indra merupakan pintu masuk yang pertama.apalagi jika disertai pusing dalam kondisi pusing berat misalnya dapat mempengaruhi ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya kurang membekas (Syah, 2010: 146-147).
b.   Faktor Psikologis
Diantara faktor psikologis yang juga berpengaruh dalam belajar seseorang adalah karena adanya dorongan kejiwaan. Adanya dorongan kejiwaan menurut Sumadi Suryabrata, yang mensinyalir pendapat Arden N.F. Fransen adalah sebagai berikut:
1)      Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia lebih luas.
2)      Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia keinginan untuk selalu maju.
3)      Adanya keinginan untuk mendapatkan simpatik pada orang tua, guru dan teman-temannya.
4)      Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan dan selalu dengan usaha yang baru, baik dengan koperasi maupun dengan kompetisi.
5)      Adanya ganjaran atau hukuman sebagai hasil dari pada belajar (Suryabrata, 2002: 150).
2.    Teori –teori Belajar
Menurut Ngalim Purwanro teori-teori pembelajaran dibagi menjadi beberapa bagian di antaranya adalah sebagai berikut :
a)         Teori Clasical Conditioning (Pavlov dan watson)
Adalah suatu proses suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan reaksi (respon) . untuk menjadi siswa belajar maka perlu syarat tertentu yang terpenting dalam teori ini adalah adanya latihan yang secara kontinu (Purwanto, 1990: 90).
b)        Teori Conditioning dari Guthrie
Dalam teori ini berisi tentang bagaimana mengubah kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik berdasarkan tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai deretan deretan tingkah laku yang terdiri dari unit-unit (Purwanto, 1990: 9).
c)         Teori belajar menurut Psikologi Gestalt
Dalam teori ini manusia bukanlah makhluk reaksi yang hanya berbuat atau bereaksi jika ada perangsang yang mempengaruhinya. . (Purwanto, 1990: 100).
3.    Upaya dalam Menumbuhkan Minat Belajar
            Untuk memberikan minat, maka dipopulerkan suatu semboyan: “berfikir dan berbuat”. Dalam dinamika kehidupan manusia, maka berfikir dan berbuat sebagai suatu rangakaian yang tidak dapat dipisahkan. Begitu juga dalam belajar sudah barang tentu tidak mungkin meninggalkan dua kegiatan itu, berfikir dan berbuat. Seseorang yang telah berhenti dan berbuat perlu diragunakan eksistensi kemanusiaannya. Hal ini sekaligus juga merupakan hambatan bagi proses pendidikan yang bertujuan ingin memanusiakan manusia.
  Di dalam kenyataan motif  belajar ini tidak selalu timbul dalam diri siswa. Sebagian siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi, tetapi sebagian lain memotivasinya rendah atau bahkan tidak ada sama sekali. Bagi siswa yang tidak mempunyai motif belajar, besar kemungkinan ia tidak akan mencapai tujuan belajar. Bila hal seperti ini tidak diperhatikan, tidak dibantu, maka siswa akan gagal dalam belajar.
                        Oleh karena itu, guru sebagai orang yang membelajarkan siswa, harus peduli dengan masalah minat belajar. Guru bukanlah pengajar yang sudah lega bila semua pokok bahasan dari suatu mata pelajaran sudah tersampaikan tepat pada waktunya. Ia tidak hanya berbangga hati bila ia telah menyampaikan materi pelajaran dengan berbagai metode pembelajaran yang canggih. Di samping itu semua, yang tidak kalah penting, ia harus mau dan mampu memotivasi siswa yang rendah motivasi belajarnya dan meningkatkan motivasi siswa yang sudah mempunyai motivasi belajar. Kepedulian guru terhadap masalah minat belajar siswa bukanlah hal yang mengada-ada, melainkan sebagai tugas-tugas yang melekat dalam diri guru.
Sehubungan dengan pemeliharan dan peningkatan motivasi siswa, DeCecco dan Grawford sebagaimana dikutip oleh Slameto, mengajukan 4 fungsi pengajar sebagai pendorong minat anak, sebagaimana berikut :
1.   Menggairahkan siswa
     Dalam pembelajaran guru harus menghindari hal-hal yang monoton. Guru harus memelihara minat siswa dalam belajar, yaitu dengan memberikan kebebasan tertentu untuk berpindah dari satu aspek ke lain aspek pelajaran dalam situasi belajar. Untuk dapat meningkatkan kegairahan siswa, guru harus mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai disposisi awal siswa-siswinya.
2.   Memberikan harapan realistis
     Guru harus memelihara harapan-harapan siswa yang realistis, dan memodifikasikan harapan-harapan yang kurang atau tidak realistis. Dengan demikian pengajar harus dapat membedakan antara harapan-harapan yang realistis, pesimistis atau terlalu optimis. Bila siswa telah banyak mengalami kegagalan, maka guru harus memberikan sebanyak mungkin keberhasilan pada siswa.
3.   Memberikan insentif
     Bila siswa mengalami keberhasilan, pengajar diharapkan memberikan hadiah pada siswa (dapat berupa pujian, angka yang baik dan lain sebagainya) atas keberhasilannya, sehingga siswa terdorong untuk melakukan usaha lebih lanjut guna mencapai tujuan-tujuan pengajaran.
4.   Mengarahkan
                 Pengajar harus mengarahkan tingkah laku siswa, dengan cara menunjukkan pada siswa hal-hal yang dilakukan secara tidak benar dan meminta pada mereka melakukan sebaik-baiknya (Slameto 1995: 176).
C.    Pengaruh Reward dan Punisment terhadap Minat Belajar siswa
Dalam proses pembelajaran tentu ada kegagalan dan keberhasilannya. Kegagalan belajar siswa tidak sepenuhnya berasal dari diri siswa tersebut tetapi bisa juga dari guru yang tidak berhasil dalam memberikan minat ataupun motivasi yang mampu membangkitkan semangat siswa untuk belajar. Keberhasilan belajar siswa tidak lepas dari motivasi siswa yang bersangkutan, oleh karena itu pada dasarnya motivasi berprestasi merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan siswa. Siswa juga akan lebih termotivasi jika dari hasil belajarnya tersebut mendapatkan penghargaan (reward) yang memuaskan dari guru atau pihak pengajar sebagai tanda penghargaan atas hasil belajarnya tersebut.
Dalam proses pembelajaran dikenal dengan istilah reward dan punishment sebagaimana pendekatan pendidikan lainya metode reward dan punishment memiliki kekurangan dan kelebihan, namun hampir bisa dikatakan bahwa pendekatan reward memiliki banyak kelebihan, Armai arief mengatakan bahwa pemberian reward memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap jiwa anak didik untuk melakukan perbuatan yang positif dan bersikap progresif (Arief, 2002: 128). Disamping juga dapat memberikan pendorong bagi anak didik lainya untuk mengikuti anak yang telah memperoleh pujian dari gurunya, baik dalam tingkah laku, sopan santun ataupun semangat dan motifasinya dalam berbuat yang lebih baik (Arief,2002: 128). Berbeda dengan reward pemberian punisment haruslah ditempuh sebagai jalan terakhir dalam proses pendidikan (Arief,2002: 135).
Dalam praktik pendidikan, pernah dilakukan eksperimen yang bertujuan membandingkan antara reward dan punishment dalam meningkatkan prestasi belajar. Eksperimen ini dimulai dengan menentukan tiga kelompok yang akan diberi perlakuan pembelajaran dengan metode berupa dibiarkan, diberi reward, dan diberi punishment. Pada awal pembelajaran seluruh subjek mempunyai prestasi belajar yang relatif sama. Setelah diberi perlakuan pada satu semester ternyata kelompok yang diberi punishment mempunyai prestasi belajar yang lebih tinggi dibanding kelompok yang diberi reward ataupun metode hukuman, apalagi dengan kelompok yang dibiarkan ( http://gitabiology.blogspot.com/2009).
Dalam dunia pendidikan, penerapan teori Maslow ini diwujudkan dengan pemberian reward (hadiah) dan punishment (hukuman). Reward diberikan kepada siswa yang mampu menunjukkan kinerja yang baik dalam belajar, sedangkan punishment diberikan kepada siswa yang tidak taat terhadap peraturan. Keduanya harus diberikan secara tepat dan seimbang. Artinya, ketika guru menemukan ada siswanya yang melanggar aturan, maka guru perlu memberikan sanksi agar siswa tersebut menyadari kesalahan yang telah dilakukannya dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Akan tetapi, jika ada siswa yang berhasil melakukan tugasnya dengan baik, maka guru tidak perlu sungkan untuk memberikan pujian dalam bentuk lisan ataupun tulisan. Pemberlakuan punishment (hukuman)  harus tepat dan sangat hati-hati, karena bentuk hukuman baik berupa fisik maupun melalui perkataan sangat mungkin diterima negatif oleh siswa meskipun sebenarnya mereka mengetahui bahwa tindakannya keliru. Mendapatkan penghargaan ketika melakukan tindakan yang terpuji merupakan hak siswa. Oleh karena itu tidak perlu merasa khawatir pujian akan membuat siswa menjadi malas atau manja. Justru dengan pujian yang proporsional, siswa memperoleh penguatan dan energi yang lebih untuk memperbaiki diri. Dengan begitu, secara tidak langsung akan membuat wibawa guru meningkat di mata siswa.
Pemberian pujian merupakan salah satu bentuk motivasi ekstrinsik yang mempengaruhi belajar siswa. Motivasi sudah diyakini mempunyai peranan yang strategis dalam aktivitas belajar seseorang. Tidak ada seorang pun yang belajar tanpa motivasi. Tidak ada motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar. Anak didik yang mempunyai motivasi dalam belajar selalu yakin dapat menyelesaikan setiap pekerjaan yang dilakukan. Setiap ulangan yang diberikan oleh guru tidak dihadapi dengan resah gelisah, tetapi dihadapi dengan tenang dan percaya diri. Oleh karena itu pemberian reward dan Punishment akan sangat membantu siswa terutama membantu dalam hal peningkatan hasil belajar, sebab dengan mengunakan metode Reward  dan punishment anak menjadi semagat dan memiliki minat yang besar terhadap motifasi belajar. Dengan demikian minat anak akan berkembang dan memiliki dapak yang positif terhadap perkembangan siswa terutama dalam mengembangkan minat sifat yang akhir dan endingnya adalah sebagai faktor pendorong motifasi untuk belajar.
Maka dari itu dalam sebuah proses belajar mengajar metode apapun sebenarnya baik tinggal bagaimana guru memanajemen dalam pengelolaan pengajaran. Seperti halnya dengan pemberian reward dan Punishment, kalau guru mengunakan metode ini dengan baik dan dengan cara hati hati maka jelas dan dapat dipastikan akan memberikan minat belajar pada anak. Dengan adanya minat anak maka sesungguhnya akan menjadikan motifasi tersendiri bagia anak yang pada akhir dari proses pembelajaran akan dapat menghasilkan atau mendapatkan hasil belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.








Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar



 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. mikumpulrejo02 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger