Reward dan Punishment
A.
Reward dan Punishment
1.
Pengertian Reward
dan Punishment
Dalam jaringan rekayasa paedagogis harus merupakan upaya membuat anak mau
dan dapat belajar atas dorongan sendiri untuk mengembangkan bakat, pribadi dan
potensi secara optimal. Sehingga berkaitan dengan pemakaian reward (hadiah)
dan Punishment (hukuman)
sebagai salah satu teknik pendidikan yang sering dipergunakan. Dalam mendidik,
harus mampu menjadikan anak didik berkembang sesuai fitrahnya bukan perbudakan
otoritas pendidik pada diri anak yang mematikan inisiatif dan potensi.
Berikut akan dijelaskan mengenai ragam pengertian reward (hadiah)
sebagai salah satu alat pendidikan sebagai pendorong motivasi belajar siswa,
sebagaimana berikut.
Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia hadiah merupakan pemberian, hadiah, ganjaran ( karena memenangkan
suatu perlombaan, pemberian, kenang- kenangan, penghargaan, penghormatan, tanda
kenang- kenangan tentang perpisahan cendera
mata ( Anwar, 2001: 162).
Sedangkan Suharsimi Arikunto,
menjelaskan hadiah adalah sesuatu yang diberikan kepada orang lain karena sudah
bertingkah laku sesuai dengan yang dikehendaki yakni mengikuti peraturan
sekolah dan tata tertib yang sudah ditentukan (Arikunto, 1980: 182).
Dalam teori teori pembelajaran
dikenal efek yang dirasakan oleh seseorang sebagai sesuatu yang menyenangkan,
maka efek tersebut disebut sebagi Reward atau hadiah ( Sriyanti, dkk., 2009: 72).
Hadiah dapat juga dikatakan
sebagai motivasi, tetapi tidaklah selalu demikian, karena hadiah untuk suatu
pekerjaan mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak
berbakat untuk sesuatu pekerjaan tersebut. Contohnya hadiah yang diberikan
untuk gambar yang terbaik mungkin tidak akan menarik bagi seseorang siswa yang
tidak memiliki bakat menggambar. Pemberian hadiah dapat meningkatkan motivasi
berprestasi siswa, sehingga dengan motivasi berprestasi itu prestasi belajar
siswa akan meningkat sebab motifasi adalah syarat mutlak untuk belajar (Purwanto, 1990: 60).
Dari beberapa pengertian di
atas, dapat diambil satu kesimpulan bahwa pemberian hadiah merupakan salah satu
bentuk alat pendidikan dalam proses pembelajaran yang dilakukan guru untuk anak
didik sebagai satu pendorong, penyemangat dan motivasi agar anak didik lebih
meningkatkan prestasi hasil belajar sesuai yang diharapkan. Dan diharapkan dari
pemberian hadiah tersebut muncul keinginan dari di anak untuk lebih
membangkitkan minat belajar yang tumbuh dari dalam diri siswa sendiri.
Selanjutnya akan dipaparkan
juga mengenai beberapa definisi hukuman yang juga sebagai salah satu alat
pendidikan sekaligus sebagai bentuk atas konsekuensi tingkah laku yang sudah
dilakukan menurut beberapa pandangan ahli pendidikan.
Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia hukum adalah peraturan ysng dibuat oleh suatu kekuasaan atau adat
yang yang dianggap berlaku oleh dan untuk orang banyak (Anwar, 2001: 172).
Artinya bahwa hukuman suatu aturan yang dibuat untuk mengatur pergaulan hidup
dalam hal ini pergaulan hidup siswa yang berada disekolah.
Sedangkan menurut Ngalim
Purwanto, menjelaskan hukuman adalah penderitaan yang diberikan atau
ditimbulkan dengan sengaja oleh seseorang (orang tua, guru) sesudah terjadi
suatu pelanggaran, kejahatan atau kesalahan (Purwanto, 1995: 186).
Dari beberapa definisi di
atas, dapatlah disimpulkan bahwa hukuman adalah pemberian penderitaan atau
penghilangan stimulasi oleh pendidik sesudah terjadi pelanggaran, kejahatan
atau kesalahan yang dilakukan anak didik. Hukuman juga dapat dikatakan sebagai
penguat yang negatif, tetapi kalau hukuman itu diberikan secara tepat dan bijak
bisa menjadi alat motivasi. Karena pada dasarnya sebuah hukuman akan menjadikan
efek berupa perilaku, dalam hal ini apabila efek yang berdifat tidak
menyenangkan kepada siswa maka efek ini disebut sebagai Punishment atau
hukuman (Sriyanti, dkk., 2009: 72 ).
Penggerakan motivasi belajar
didasarkan atas prinsip-prinsip memberikan hadiah (reward) akan lebih
efektif dibandingkan dengan hukuman (punishment). Namun, sebagai alat
pendidikan yang sering digunakan pendidik untuk memacu prestasi anak didik,
dalam penerapannya haruslah sesuai dengan konsekuensinya.
Menurut Suharsimi Arikunto ada
beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam memberikan hadiah kepada
siswa yaitu :
1.
Hadiah hendaknya disesuaikan dengan keadaan dan
sifat dari aspek yang menunjukkan keistimewaan prestasi.
2.
Hadiah harus diberikan langsung sesudah perilaku
yang dikehendaki dilaksanakan.
3.
Hadiah harus diberikan sesuai dengan kondisi orang
yang menerimanya.
4.
Hadiah yang harus diterima anak hendaknya
diberikan. Hadiah harus benar-benar berhubungan dengan prestasi yang dicapai
oleh anak.
5.
Hadiah harus diganti (bervariasi).
6.
Hadiah hendaknya mudah dicapai.
7.
Hadiah harus bersifat pribadi.
8.
Hadiah sosial harus segera diberikan.
9.
Jangan memberikan hadiah sebelum siswa berbuat.
10.
Pada waktu menyerahkan hadiah
hendaknya disertai penjelasan rinci tentang alasan dan sebab mengapa yang
bersangkutan menerima hadiah tersebut (Arikunto, 1991: 163).
Pada waktu menyerahkan hadiah
hendaknya disertai penjelasan rinci tentang alasan dan sebab mengapa yang
bersangkutan menerima hadiah tersebut. Oleh karena itu pemberian hukuman tidak
serta merta sebagai suatu tindakan balas dendam antara guru dan anak didik yang
tidak bisa mencapai harapan yang diinginkan, namun guru harus memahami segala
bentuk prinsip-prinsip pemberian hukuman sebagai sangsi kependidikan.hukuman
dimaknai sebagai sesutau yang dapat dijadikan sebuah pelajaran bagi anak.
Hukuman perlu diberikan kepada anak, mengapa demikian ? di bawah ini akan
diuraikan mengapa hukuman menjadi penting untuk dilakukan :
1. Agar tidak mengualang
kejadian yang sama.
Pada dasarnya anak memiliki
rutinitas yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari dengan adanya
rutinitas yang dilakukan anak, maka kemudian akan menjadikan anak lalai, faktor
lalai ini yang menyebabkan seorang anak menjadi lalai (El-Ghani, 2009: 52). Andaikata
anak melakukan kesalahan satu ataupun dua kali mungkin bisa dimaklumi, namun
jika anak melakukan berulang kali, maka hukuman menjadi pilihan dan harus
dilakukan agar anak jera (kapok) untuk melakukan kesalahan yang sama (El-Ghani, 2009: 53).
2. Bisa mengambil
pelajaran dan hikmah.
Kesalahan bagaimanpun juga
akan menjadikan anak bisa mengambil tentang peristiwa yang dihadapinya (El-Ghani,
2009: 54). Dengan pemberian hukuman kepada anak ada harapan bahwa anak akan
menjadi hati-hati dan sebagai pelajaran yang akan datang agar tidak mengulang
peristiwa yang pernah dialaminya.
3. Konsistensi sebuah
perjanjian.
Hukuman yang baik pada
dasarnya adalah sebuah konsekuensi dari perjajian dari seorang guru terhadap murid,
jika anak berbuat salah maka seorang anak akan mendapatkan hukuman baiknya lagi
anak yang melakukan kesalahan mau mengakui dan menyediakan diri untuk di hukum
tanpa seorang guru yang mendesak untuk melakukan hukuman (El-Ghani, 2009: 56).
2. Tujuan pemberian Reward dan
Punishment
a. Tujuan pemberian reward
Pemberian hadiah atau reward
sangat berarti bagi anak yaitu paling tidak dengan adanya hadiah anak akan
menjadi percaya diri meskipun pemberian
hadiah oleh pendidik tidak selamanya bersifat baik, namun tidak menutup
kemungkinan bahwa pemberian hadiah merupakan satu hal yang bersifat positif.
Armai Arief berpendapat pada implikasi
pemberian hadiah yang bersifat negatif apabila pelaksanaan pemberian hadiah
dipakai sebagai berikut :
a) Menganggap
kemampuannya lebih tinggi dari teman-temannya atau temanya dianggap lebih
rendah.
b) Dengan pemberian
hadiah membutuhkan alat tertentu serta membutuhkan biaya.
c) Dapat menjadi
pendorong bagi anak didik lainnya untuk mengikuti anak yang memperoleh hadiah
dari gurunya, baik dalam tingkah laku, sopan santun, semangat dan motivasinya
dalam berbuat yang lebih baik ( Arif, 2002: 128).
Pemberian reward akan sangat
bermanfaat bagi peserta didik terutama dalam memberikan stimulus yang bersifat
baik, dengan adanya reward akan berdampak pada siswa yaitu memberikan
semangat baru untuk melakukan kegiatan yang akan diberikan, sebagai contoh
misalnya ketika anak melakukan hadiah atas prestasi yang diberikan kepada guru
maka anak akan terangsang untuk melakukan hal yang sama. Pemakaian hadiah akan
lebih tepat dan berguna bila dalam pelaksanaannya selalu menyesuaikan kondisi,
dimana memang pemberian hadiah itu harus dilakukan oleh seorang guru sebagai
motivator belajar anak didik. Pemberian hadiah adalah bentuk reinforcement atau penguatan yang
positif dan sekaligus merupakan motivsi berprestasi maka pemberiannya harus
tepat dana disesuaikan dengan kondisi anak, menurut Marno ada beberapa tujuan
pemberian Reward sebagai reinforcement
penguatan diantaranya adalah sebagai berikut :
1.
Menigkatkan perhatian siswa dalam proses belajar
mengajar.
2.
Membangkitkan, memelihara, dan meningkatkan
motivasi belajar
siswa.
3.
Mengarahkan pengembangan berfikir siswa kearah
berfikir divergen
4.
Mengendalikan serta memodifikasi tingkah laku
siswa yang kurang positif serta
mendorong munculnya tingkah laku yang produktif (Marno dan Idris, 2008: 133).
Dari beberapa tujuan diatas menjadi sangat jelas bahwa reward
diberikan kepada anak agar menjadi motifasi karena pemberian hadiah kepada anak
akan berdampak besar manfaatnya sebagai pendorong dalam belajar (Hamalik, 2001:
167).
b. Tujuan Pemberian Punisment (Hukuman )
Selanjutnya pembahasan mengenai hukuman yang juga salah satu
metode penerapan konsekuensi anak didik yang tidak sesuai dengan harapan yang
diinginkan. Hukuman terpaksa diberikan, namun dalam penerapannya harus mempertimbangkan syarat-syarat sebagai
berikut:
1.
Dasarnya
tindakan harus kasih sayang dan rasa tanggung jawab, bukan karena alasan dendam
atau pembalasan. Karena itu, jangan menghukum anak pada saat pendidik sedang
marah (terganggu emosinya).
2.
Tujuan hukuman
adalah untuk perbaikan tingkah laku atau sifat-sifat yang kurang baik dan
terutama untuk kepentingan peserta didik di masa yang akan datang.
3.
Hukuman
yang edukatif akan menimbulkan rasa menyesal pada subyek didik, bukan
menimbulkan rasa sakit hati atau dendam kesumat. Penyesalan atas diri sendiri
dibarengi dengan kesadaran anak bahwa hukuman ini juga terpaksa menimbulkan
rasa kurang enak pada pendidik akibat perbuatannya, merupakan pertanda bahwa
hukuman tersebut diterima secara sewajarnya oleh peserta didik.
4.
Hukuman
harus diakhiri dengan pemberian maaf oleh pendidik kepada peserta didik.
Setelah peserta didik menunjukkan penyesalannya segera hubungan edukatif antara
pendidik dan peserta didik harus dipulihkan, dengan berbagai sikap dan
kata-kata pendidik yang menunjukkan bahwa dia telah menerima kembali peserta
didik ini seperti sediakala (Draf makalalah, 2007).
3.
Macam
–macam Reward dan Punishment
a.
Macam
–macam reward (hadiah).
Banyak sekali kriteria untuk menentukan reward
(hadiah) macam apakah yang baik diberikan kepada anak memang suatu hal yang
sangat sulit. Hadiah sebagai alat pendidikan banyak sekali macamnya. Ada
beberapa macam hadiah yang diberikan anak didik yaitu hadiah yang berupa
benda-benda yang menyenangkan dan berguna bagi anak-anak misalnya: pensil, buku
tulis. Guru memberikan kata yang menggembirakan (pujian) misalnya tulisanmu
sudah baik, tetapi kalau kamu terus belajar tentu akan lebih baik lagi, guru
mengangguk-ngangguk tanda senang dan membenarkan suatu jawaban yang diberikan
oleh seorang anak. Beberapa hadiah dipakai dalam pembelajaran menurut Oemar
hamalik adalah sebagai berikut :
a)
Memberi
Angka.
Dalam motivasi belajar ada istilah yang digunakan seorang
guru dalam memberikan reward (hadiah) sebagai syarat untuk meningkatkan
motivasi belajar, umumnya seorang siswa ingin mengetahui hasil pekerjaanya
yakni angka yang diberikan guru, dengan adanya angka ini murid yang mendapatkan
angka baik akan mendorong motivasi belajarnya menjadi lebih besar begitu juga
sebaliknya murid yang mendapatkan angka kurang, mungkin menimbulkan frustasi
dan menjadikan pendorong agar beljar lebih baik (Hamalik, 2001: 166).
Angka sebagai simbol kegiatan belajar, artinya angka yang dimaksud berupa bonus
nilai/tambahan nilai bagi siswa yang mengerjakan tugas dengan baik. Salah satu
contohnya adalah pada saat siswa mengerjakan tugas dengan baik, guru memberikan
bonus nilai kepada siswa tersebut. Secara tidak langsung hal tersebut dapat
memotivasi siswa yang lain untuk mengerjakan tugas juga, supaya mendapat bonus
nilai. Selain sebagai motivasi berprestasi bonus nilai secara tidak langsung
juga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
b)
Pujian
Pemberian pujian menurut Oemar Hamalik merupakan bentuk Reward
dimana pemberian pujian kepada murid atas hal-hal yang telah dilakukan
dengan berhasil besar manfaatnya sebagai pendorong dalam belajar (Hamalik,
2001: 167). Pemberian pujian adalah bentuk reinforcement yang positif
dan sekaligus merupakan motivsi berprestasi maka pemberiannya harus tepat.
Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi
gairah belajar serta sekalus akan membangkitkan harga diri siswa sehingga
prestasi belajar siswa ikut meningkat.
c)
Pemberian
Hadiah.
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi berprestasi.
Sebagian siswa merasa senang dan bangga apabila dia diberikan hadiah atas
prestasinya yang baik atau nilai yang baik disekolah oleh guru mereka maupun
orangtua. Cara ini juga dapat dilakukan oleh guru dalam batas-batas tertentu
misalnya ketika siswa diakhir tahun yang mendapat atau menunjukan hasil belajar
yang baik (Hamalik, 2001: 167). Sedangkan Suharsimi Arikunto membagi hadiah
menjadi beberapa bagian :
a)
Peringkat
dan simbul-simbul lain
Menurut Arikunto bentuk hadiah yang paling lazim digunakan
adalah peringkat huruf ataupun angka meskipun simbul-simbul lain seperti
tanda-tanda bintang, centang, tanda benar dan lain-lain kadang-kadang juga
digunakan untuk siswa siswi sekolah dasar maupun menegah (Arikunto, 1980: 160).
b)
Penghargaan
Reward atau hadiah ini dapat berupa
berbagai hal yang intinya dalam penghargaan ini adalah adanya “ perhatiaan”
kepada siswa (Arikunto, 1980: 161).
c)
Hadiah
berupa kegiatan
Ada kalanya suatu pekerjaan tugas ataupun kegiatan-kegiatan
lain akan merupakan dambaan siswa sehingga hadiah berupa kegiatan ini siswa
menjadi tertarik untuk melakukan (Arikunto, 1980: 161).
d)
Hadiah
berupa benda
Dalam pemberian hadiah ini yaitu adanya pemberian berupa
benda-benda yang diperkirakan mengandung nilai-nilai bagi siswa, misalnya
makanan, uang dan lain-lain (Arikunto, 1980: 164). Menurut Edy Siswanto ada 2 macam reward
(hadiah) yaitu :
1.
Berupa
ucapan.
Guru dalam menyampaikan ilmunya tidak luput dari kesalahan,
demikian juga siswa di kelas. Perlunya guru meminta maaf disetiap akhir
pelajaran tentunya membuat murid juga akan merasakan pentingnya ucapan
tersebut. Lebih penting lagi untuk diperhatikan adalah penghargaan terhadap
setiap tindakan / aktivitas anak. Contohnya : baik, pekerjaanmu bagus, perlu
ditingkatkan, seratus untuk anda, coba mari kita kerjakan bersama, hal ini
perlu sekali dilakukan baik berupa pujian maupun harapan dan saran ( Edy
Siswanto, www. blogspot. Com).
2.
Berupa
tindakan
a)Pemberian
poin atau nilai
b)
Menepuk
punggung siswa dengan berkata bagus-bagus
c)Membubuhkan
tanda tangan
d)
Memberikan
secarik tulisan berupa saran dan kritik yang membangun serta harapan
e)
Memberikan
pengumuman bagi pemenang disertai tepuk tangan temannya
f)
Memberikan
hadiah berupa buku / pensil atau uang dsb ( Edy Siswanto, www. blogspot. Com).
b.
Macam-macam
punishment ( hukuman )
Salah satu yang harus dipahami bagi seorang guru ataupun
pendidik adalah adanya kesepahaman bersama tentang anak-anak, dimana anak-anak
adalah pribadi yang unik, keunikan ini mengharuskan para guru untuk bersikap
lebih toleran dengan segala polah dan tingkah mereka, baik yang lucu menggemaskan
sampai dengan yang menjengkelkan.
Bentuk-bentuk hukuman yang ada diberikan kepada siswa sesuai
dengan kesalahan atau pelanggaran yang diperbuat. Bagi siswa yang suka ramai
dapat dipisahkan tempat duduknya di pojok kelas atau disuruh keluar kelas,
siswa yang tidak mengerjakan tugas dapat diberikan tugas berlipat dan
pengurangan nilai, siswa yang terlambat mengumpulkan tugas digunakan denda dan
siswa yang sering kali melanggar peraturan, maka tidak dapat diampuni kesalahannya
maka diberikan hukuman diskors (Arikunto, 1980: 176).
Ada beberapa punishment (hukuman) dalam kaitanya dengan
pembelajaran menurut Suharsimi Arikunto jenis-jenis hukuman antara lain :
1.
Pengurangan
Skor atau Penurunan Peringkat
Hukuman
untuk jenis ini merupakan hukuman yang paling banyak dipraktekan di sekolah (Arikunto,
1980: 174). Terutama diterapkan ketika siswa terlambat datang, tidak atau
terlambat mengumpulkan tugas.
2.
Pengurangan
Hak
Hukuman jenis ini merupakan hukuman yang paling efektif
karena dapat digunakan sebagai selera siswa. Dalam hukuman ini memang harus ada
pengawasan yang ketat dari pendidik atau guru sehingga dapat memilihkan
pengurangan yang tepat bagi setiap siswa (Arikunto, 1980: 174).
3.
Hukum Berupa
Denda
Dalam hukuman ini bukan hukuman yang berupa uang namun
hukuman ini lebih banyak memberikan makna “ pembayaran “ (Payment)
(Arikunto, 1980: 17).
4.
Pemberian Celaan
Dalam hukuman ini digabungkan dengan hukuman yang lainya
siswa yang melanggar peraturan penting yang diperuntukan yang diperuntukan bagi
siswa akan mendapat celaan. Hukuman ini guru menuliskan kesalahan siswa dalam
buku catatan khusus atau keanehan (anecdotal record) (Arikunto, 1980:
175).
5.
Penahanan Sesudah
Sekolah
Hukuman ini hanya
dapat diberikan apabila siswa disuruh tinggal di sekolah setelah jam usai dan
ditemani oleh guru (Arikunto, 1980: 175).
Sedangkan menurut Arini
El-Ghani kaitanya dengan macam-macam hukuman ada beberapa langkah praktis dalam
menghukum anak.
a.
Dalam
memberi hukuman hendaknya mampu memberi contoh atau tauladan.
Dalam
memberikan hukuman alangkah baiknya diberikan contoh sebab dengan pemberian
contoh seorang anak/siswa akan melihat kesungguhan kita dan akan berusaha
mencontoh atau meniru apa yang dicontohkan guru ( El-Ghani, 2009: 77).
b.
Minta maaf
kepada yang bersangkutan.
Dalam
langkah ini meminta maaf adalah langkah awal dan paling pertama yang harus
dilakukan (El-Ghani, 2009: 78).
c.
Memunculkan
rasa tanggungjawab.
Tanggungjawab
merupakan wujud jiwa yang besar, artinya anak akan belajar bahwa perbuatan
apapun akan mengandung resiko baik resiko besar maupun kecil dan dengan apa
yang dilakukan maka akan siap mengambil konsekwensi atyaupun seluruh akibat dan
yang pasti harus mempertanggungjawabkan perbuatanya (El-Ghani, 2009: 81).
d.
Berjanji tidak
akan mengulangi.
Dalam
berjanji tidak akan mengulangi memiliki konsekwensi bahwa dalam diri anak harus
ada penanaman berjanji kepada dirinya sendiri sehingga siswa atau anak tidak
melakukan kesal;ahan mengulangi perbuatan yang serupa atau kedua, ketiga atau bahkan
ke empat kalinya (El-Ghani, 2009: 82).
4.
Fungsi
Reward dan Punishment
Tujuan pemberian
hadiah sama dengan tujuan penerapan hukuman yaitu membangkitkan perasaan dan
tanggung jawab. Dan hadiah juga bertujuan agar anak lebih giat lagi usahanya
untuk memperbaiki dan mempertinggi prestasinya (Arifin, 1996: 217).
Teknik
reward (hadiah/ganjaran) merupakan teknik yang dianggap berhasil
menumbuhkembangkan minat siswa. Pemberian penghargaan dapat membangkitkan minat
anak untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu. Di mana tujuan pemberian
penghargaan adalah membangkitkan atau mengembangkan minat. Jadi, penghargaan
berperan untuk membuat pendahuluan saja. Penghargaan adalah alat, bukan tujuan,
hendaknya diperhatikan jangan sampai penghargaan ini menjadi tujuan. Tujuan
pemberian pengharagaan dalam belajar adalah bahwa setelah seorang menerima
pengharagaan karena telah melakukan kegiatan belajar dengan baik, ia akan terus
melakukan kegiatan belajarnya sendiri di luar kelas (Hamalik, 2000: 184).
Sebaliknya bila
seorang belajar untuk mencari penghargan berupa hadiah dan sebagainya, ia
didorong oleh motivasi ekstrinsik, oleh sebab tujuan-tujuan itu terletak di
luar perbuatan itu, yakni tidak terkandung di dalam perbuatan itu sendiri. “The
goal is articially introduced”. Tujuan itu bukan sesuatu yang wajar dalam
kegiatan. Anak-anak didorong oleh motivasi intrinsik, bila mereka belajar agar
lebih sanggup mengatasi kesulitan-kesulitan hidup, agar memperoleh pengertian,
pengetahuan, sikap baik, penguasaan kecakapan. Hasil-hasil itu sendiri telah
merupakan hadiah. “The reward of a thing well done is to have done it”
(Emerson). Ganjaran bagi sesuatu yang dilakukan dengan baik telah melakukannya.
Membangkitkan motivasi tidak mudah. Untuk itu perlu mengenal murid dan
mempunyai kesanggupan kreatif untuk menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan
dan minat anak (Nasution, 2000: 78).
B.
Minat Belajar Siswa
1.
Pengertian Minat belajar
a.
Pengertian Minat
Banyak
sekali, bahkan sudah umum orang menyebut dengan minat untuk menunjuk orang
melakukan sesuatu. Istilah minat menunjuk kepada semua gejala yang terkandung
dalam stimulasi tindakan ke arah tujuan tertentu di mana sebelumnya tidak ada
gerakan menuju ke arah tujuan tersebut. Sebagaimana gambaran mengenai batasan
minat, akan penulis kutip dari beberapa pendapat, yaitu :
Dalam kamus besar bahasa Indonesia minat adalah perhatian
atau kesukaan atau bisa dikatakan sebagai kencenderungan hati (Anwar, 2001: :
280). Sedangkan menurut Muhibin Syah minat adalah kecenderungan dan kegairahan
yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu (Muhibin Syah, 2010:
152). Menurut Reber (1988) sebagaimana
yang dikutip oleh Muhibbin Syah mengatakan bahwa, minat tidak termasuk istilah
populer dalam psikologi karena ketergantungannya yang banyak pada faktor-faktor
internal lainnya seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan
kebutuhan
Menurut Oemar Hamalik bahwa minat adalah sesuatu yang sangat
penting dalam pengajaran, dalam hal ini guru memiliki tugas yang sangat berat
yaitu bagaimana guru mampu memberikan kepada siswa untuk mau dalam belajar.
Secara tegas bahwa minat dipandang sebagi sebuah proses (Hamalik, 2001: 158).
Sedangkan minat juga bisa dikatakan sebagai motifasi maka
dalam pengertianya adalah minat atau motifasi adalah segala tenaga yang dapat
membagkitkan atau mendorong seseorang untuk melakukan suatu perbuatan, sebagai
contoh misalnya ketika seorang yang tidak mau belajar hal itu karena tidak ada
motifasi atau keinginan atau bahkan tidak ada minat untuk belajar, maka seorang
guru harus dapat melakukan perbuatan belajar, dengan adanya motifasi yang kuat
dalam proses belajar mengajar dalam pembelajaran akan menimbulkan minat, moral
yang baik, belajar yang efektif, sehingga dengan demikian anak telah mencapai
sesuatu yang realistis (Soetomo, 1993: 141).
Bertolak
dari berbagai batasan di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa minat
adalah suatu dorongan yang ditunjukkan untuk menggerakkan seseorang (individu),
sehingga ia mampu bertindak atau bertingkah laku guna mencapai tujuan tertentu
ataupun untuk memperoleh hasil yang diinginkan.
Minat dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk
menyediakan kondisi-kondisi sesuatu, sehingga seseorang itu mau dan ingin
melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan
atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi itu dapat dirangsang
oleh faktor dari luar, tetapi motivasi itu adalah tumbuh di dalam diri
seseorang. Dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat dikatakan sebagai
keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan
belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberi arah
kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki subyek belajar dapat tercapai.
b.
Pengertian Belajar
Sedangkan mengenai pengertian belajar ini sangat komplek
sekali, sehingga bila kita ingin mencari jawaban tentang apakah belajar itu,
maka akan ditemukan beberapa definisi yang berbeda-beda yang dirumuskan oleh
banyak ahli. Dalam rangka pemahaman mengenai makna belajar, akan dikemukakan
beberapa pendapat mengenai definisi belajar, sebagai berikut :
Definisi belajar menurut Lilik Sriyanti, dkk., dalam
teori-teori pembelajaran adalah :
1)
Crow and
Crow dalam Education psycology (1984) belajar adalah perbuatan untuk
memperoleh kebiasaan, ilmu pengetahuaan, dan berbagai sikap, termasuk penemuaan
baru dalam mengerjakan sesuatu, usaha memecahkan rintangan, dan menyesuaikan
dengan situasi baru (Sriyanti, dkk., 2009: 22).
2)
Menurut cronbach
dalam teori-teori pembelajaran yang mengambil dalam bukunya Education Psychology
mengemukakan “ learning is shown by a change in behavior as result of
experience (Sriyanti, dkk., 2009: 22).
Kesimpulan dalam penjelasan belajar
adalah perubahan dalam prilaku, sikap, dan kepribadian hasil dari pengalaman
tetapi karena interaksi dengan lingkungan.
3)
Menurut Gregory
A Kimble dalam teori-teori pembelajaran yang mendefinisikan belajar sebagai
berikut “ learning is a relatively permanent change in behavior or in
behaviora potentiality that result from experience and canot be attributed to
temporary body states such as those induced by illnes, fatigue, or drugs”.yang
secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai berikut “ belajar adalah perbuatan
relatif permanen dalam tingkah laku atau potensi prilaku yang diperoleh dari
pengalaman dan tidak berhubungan dengan kondisi kondisi tubuh pada saat
tertentu semacam penyaki, kelelahan, atau obat-obatan. (Sriyanti, dkk., 2009: 23).
4)
Menurut Sumadi
Suryabrata dalam teori pembelajaran, hal-hal pokok dalam definisi pembelajaran
adalah :
a)
Bahwa
belajar itu membawa perubahan baik yang aktual maupun potensial.
b)
Bahwa
perubahan itu pada pokoknya mendapatkan kecakapan baru.
c)
Bahwa
perubahan itu terjadi karena adanya usaha/disengaja (Sriyanti, dkk., 2009: 24).
5)
Sedangkan
Muhibin Syah dalam Psikologi Belajar mendefinisikan belajar adalah tahapan
perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil
pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
Artinya bahwa tingkah laku yang timbul akibat proses kematangan fisik, keadaan
mabuk, lelah, dan jenuh, tidak dipandang sebagai proses belajar (Syah, 2010:
68).
6)
Penegertian
belajar menurut Soetomo adalah suatu proses yang menyebabkan perubahan tingkah
laku, yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi
perubahan dalam kebiasaan, kecakapan, bertambahpengetahuaan, berkembang daya
fikir sikap dan lain-lain (Soetomo, 1993: 120).
7)
Oemar
Hamalik menyimpulkan tentang belajar adalah :
a)
Situasi
belajar harus bertujuan, dan tujuan itu dapat diterima masyarakat.
b)
Tujuan dan
maksud belajar timbul dari kehidupan anak sendiri.
c)
Didalam
mencapai tujuan murid akan menemukan kesulitan, rintangan dan situasi-situasi
yang tidak menyenagkan.
d)
Hasil
belajar yang utama adalah pola tingkah laku yang bulat.
e)
Proses
belajar sebenarnya terutama mengerjakan hal-hal yang sebenarnya.
f)
Kegiatan
dan hasil belajar dipersatukan dihubungkan dengan tujuan dalam situasi belajar.
g)
Murid
memberikan reaksi secara keseluruhan (Hamalik, 2001: 28).
8)
Secara
sederhana belajar diartikan sebagai suatu proses yang terjadi karena adanya
usaha untuk mengadakan perubahan terhadap diri manusia yang melakukan, dengan
maksud memperoleh perubahan dalam dirinya baik berupa pengetahuaan,
ketrampilan, ataupun sikap, dan di dalam setiap belajar selalu ada usaha berupa
latihan (Arikunto, 1980: 19).
9)
Belajar
juga dapat diartikan sebagai proses orang memperoleh berbagai kecakapan,
ketrampilan, dan sikap. Belajar mulai dalam masa kecil ketika bayi memperoleh
sejumlah ketrampilan sederhana seperti memegang botol susu dan mengenal ibunya (
Gredler, 1991: 1)
Demikianlah
beberapa definisi tentang belajar yang telah dikemukakan oleh para ahli
pendidikan. Kalau kita memperhatikan beberapa definisi belajar di atas, maka
kita dapat menarik kesimpulan bahwa, walaupun beberapa ahli pendidikan
memberikan definisi belajar yang berbeda-beda, namun pada hakekatnya di dalam
definisi itu terdapat kesepakatan, bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang
bertujuan untuk mengubah tingkah laku seseorang.
1. Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Belajar
Perbuatan
belajar (hasil dari ekspresi pengolahan informasi) adalah suatu proses atau
usaha untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Proses belajar itu
dihayati masing-masing orang (pribadi) yang berbeda-beda. Ada yang belajar
lebih mudah dan cepat, tetapi ada yang mengalami kesulitan, yang kesemuanya ini
menyebabkan perbedaan prestasi belajar dikarenakan ada faktor-faktor yang
mempengaruhi.
Ada faktor-faktor yang mempengaruhi
belajar yang penulis maksudkan dapat digolongkan sebagai berikut:
a.
Faktor Internal (faktor dari dalam siswa )
Faktor internal
adalah faktor yang menyangkut seluruh faktor diri pribadi termasuk fisik maupun
mental atau psiko fisiknya yang ikut menentukan berhasil tidaknya seseorang
dalam belajar. Atau keadaan / kondisi jasmani dan rohani siswa (Syah, 2010:
145).
b.
Faktor Eksternal (faktor dari luar siswa )
Faktor ekternal
ialah faktor yang bersumber dari luar individu yang bersangkutan, misalnya
ruangan kerja, atau ruangan belajar yang tidak memenuhi syarat, alat-alat
pelajaran yang kurang memadai lingkungan-lingkungan dan sosial. Secara jelas
faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar siswa / kondisi
lingkungan di sekitar siswa (Syah, 2010: 145).
Kedua faktor
tersebut mempengaruhi seseorang dalam belajar, maksudnya dapat mendorong atau
menghambat seseorang dalam belajar.sehingga kedua faktor tersebut menjadi
faktor yang dapat menghambat/atau memberikan motivasi dalam belajar.
c.
Faktor Pendekatan belajar (Approch to learning )
yaitu jenis upaya belajar siswa yang meliputi
strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran
materi-materi pembelajaran.
Faktor –faktor di atas sering kali
dalam batas-batas tertentu memiliki kaitan dan mempengaruhi satu sama lain,
seorang siswa yang bersikap yang bersikap Conservasing terhadap ilmu
pengetahuaan atau bermotif ekstrinsik (Faktor eksternal) umpamanya, biasanya
cenderung mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tidak mendalam.
Sebaliknya seorang siswa yang memiliki Inteligensi tinggi (faktor internal) dan
mendapat dorongan dari orangtuanya (faktor eksternal) mungkin akan memperoleh
pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil pembelajaran.
Sehingga dengan munculnya teori-teori ini muncullah siswa-siswa yang High-achievers.(berpretasi
tinggi) dan under-achievers berprestasi rendah. Atau gagal sama sekali (Syah,
2010: 146).
Dalam kaitanya dengan faktor-faktor
yang mempengaruhi pembelajaran ada beberapa faktor yang dapat memperjelas dalam
pembelajaran di antaranya adalah sebagai berikut :
1)
Faktor-faktor Non-Sosial dalam Belajar
Kelompok faktor-faktor ini
boleh dikata juga tak terbilang jumlahnya, misalnya: keadaan udara, suhu udara,
cuaca, waktu (pagi atau siang ataupun malam), tempat (letaknya,
pergedungannya), alat-alat yang dipakai untuk belajar (seperti alat
tulis-menulis, buku-buku, alat-alat peraga, dan sebagainya yang biasa kita
sebut alat-alat pelajaran).
Semua faktor tersebut harus diuraikan
sedemikian rupa, sehingga membantu (menguntungkan) proses atau perbuatan
belajar secara maksimal.
2) Faktor-faktor Sosial dalam Belajar
Yang dimaksud dengan faktor-faktor
sosial di sini adalah faktor manusia (sesama manusia), baik manusia itu ada
(hadir) maupun kehadirannya itu dapat disimpulkan, jadi tidak langsung hadir.
Kehadiran orang atau orang-orang lain pada waktu seseorang sedang belajar,
banyak kali mengganggu belajar itu (Suryabrata, 2002: 249).
Kemudian adapula
faktor-faktor dari dalam yang mempengaruhi proses belajar adalah sebagai
berikut :
a. Faktor Fisiologis
Kondisi jasmani
seseorang pada umumnya dapat dikatakan melatar belakangi siswa, baik kondisi
tersebut sudah optimal atau belum. Keadaan jasmani seseorang yang sehat akan
berpengaruh, lain dengan orang yang kondisinya tidak sehat. Hal ini juga
berpengaruh kepada kegiatan belajar siswa. Juga dalam panca indra karena panca
indra merupakan pintu masuk yang pertama.apalagi jika disertai pusing dalam
kondisi pusing berat misalnya dapat mempengaruhi ranah cipta (kognitif)
sehingga materi yang dipelajarinya kurang membekas (Syah, 2010: 146-147).
b. Faktor Psikologis
Diantara faktor
psikologis yang juga berpengaruh dalam belajar seseorang adalah karena adanya
dorongan kejiwaan. Adanya dorongan kejiwaan menurut Sumadi Suryabrata, yang
mensinyalir pendapat Arden N.F. Fransen adalah sebagai berikut:
1)
Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia lebih luas.
2)
Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia keinginan untuk
selalu maju.
3)
Adanya keinginan untuk mendapatkan simpatik pada orang tua, guru
dan teman-temannya.
4)
Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan dan selalu dengan
usaha yang baru, baik dengan koperasi maupun dengan kompetisi.
5)
Adanya ganjaran atau hukuman sebagai hasil dari pada belajar
(Suryabrata, 2002: 150).
2. Teori –teori Belajar
Menurut Ngalim Purwanro
teori-teori pembelajaran dibagi menjadi beberapa bagian di antaranya adalah
sebagai berikut :
a)
Teori Clasical Conditioning (Pavlov dan watson)
Adalah suatu proses suatu
proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang
kemudian menimbulkan reaksi (respon) . untuk menjadi siswa belajar maka perlu
syarat tertentu yang terpenting dalam teori ini adalah adanya latihan yang
secara kontinu (Purwanto, 1990: 90).
b)
Teori Conditioning dari Guthrie
Dalam teori ini berisi
tentang bagaimana mengubah kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik berdasarkan
tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai deretan
deretan tingkah laku yang terdiri dari unit-unit (Purwanto, 1990: 9).
c)
Teori belajar menurut Psikologi Gestalt
Dalam teori ini manusia
bukanlah makhluk reaksi yang hanya berbuat atau bereaksi jika ada perangsang
yang mempengaruhinya. . (Purwanto, 1990: 100).
3. Upaya dalam Menumbuhkan Minat Belajar
Untuk
memberikan minat, maka dipopulerkan suatu semboyan: “berfikir dan berbuat”.
Dalam dinamika kehidupan manusia, maka berfikir dan berbuat sebagai suatu
rangakaian yang tidak dapat dipisahkan. Begitu juga dalam belajar sudah barang
tentu tidak mungkin meninggalkan dua kegiatan itu, berfikir dan berbuat.
Seseorang yang telah berhenti dan berbuat perlu diragunakan eksistensi
kemanusiaannya. Hal ini sekaligus juga merupakan hambatan bagi proses pendidikan
yang bertujuan ingin memanusiakan manusia.
Di dalam kenyataan motif belajar ini tidak selalu timbul dalam diri
siswa. Sebagian siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi, tetapi sebagian
lain memotivasinya rendah atau bahkan tidak ada sama sekali. Bagi siswa yang
tidak mempunyai motif belajar, besar kemungkinan ia tidak akan mencapai tujuan
belajar. Bila hal seperti ini tidak diperhatikan, tidak dibantu, maka siswa
akan gagal dalam belajar.
Oleh karena itu,
guru sebagai orang yang membelajarkan siswa, harus peduli dengan masalah minat
belajar. Guru bukanlah pengajar yang sudah lega bila semua pokok bahasan dari
suatu mata pelajaran sudah tersampaikan tepat pada waktunya. Ia tidak hanya
berbangga hati bila ia telah menyampaikan materi pelajaran dengan berbagai
metode pembelajaran yang canggih. Di samping itu semua, yang tidak kalah
penting, ia harus mau dan mampu memotivasi siswa yang rendah motivasi
belajarnya dan meningkatkan motivasi siswa yang sudah mempunyai motivasi
belajar. Kepedulian guru terhadap masalah minat belajar siswa bukanlah hal yang
mengada-ada, melainkan sebagai tugas-tugas yang melekat dalam diri guru.
Sehubungan dengan pemeliharan dan peningkatan motivasi
siswa, DeCecco dan Grawford sebagaimana dikutip oleh Slameto, mengajukan 4 fungsi
pengajar sebagai pendorong minat anak, sebagaimana berikut :
1. Menggairahkan
siswa
Dalam pembelajaran guru harus menghindari hal-hal yang
monoton. Guru harus memelihara minat siswa dalam belajar, yaitu dengan
memberikan kebebasan tertentu untuk berpindah dari satu aspek ke lain aspek
pelajaran dalam situasi belajar. Untuk dapat meningkatkan kegairahan siswa,
guru harus mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai disposisi awal
siswa-siswinya.
2. Memberikan
harapan realistis
Guru harus memelihara harapan-harapan siswa yang
realistis, dan memodifikasikan harapan-harapan yang kurang atau tidak
realistis. Dengan demikian pengajar harus dapat membedakan antara
harapan-harapan yang realistis, pesimistis atau terlalu optimis. Bila siswa
telah banyak mengalami kegagalan, maka guru harus memberikan sebanyak mungkin
keberhasilan pada siswa.
3. Memberikan
insentif
Bila siswa mengalami keberhasilan, pengajar diharapkan
memberikan hadiah pada siswa (dapat berupa pujian, angka yang baik dan lain
sebagainya) atas keberhasilannya, sehingga siswa terdorong untuk melakukan
usaha lebih lanjut guna mencapai tujuan-tujuan pengajaran.
4. Mengarahkan
Pengajar harus mengarahkan
tingkah laku siswa, dengan cara menunjukkan pada siswa hal-hal yang dilakukan
secara tidak benar dan meminta pada mereka melakukan sebaik-baiknya (Slameto
1995: 176).
C.
Pengaruh Reward dan Punisment terhadap
Minat Belajar siswa
Dalam proses
pembelajaran tentu ada kegagalan dan keberhasilannya. Kegagalan belajar siswa
tidak sepenuhnya berasal dari diri siswa tersebut tetapi bisa juga dari guru
yang tidak berhasil dalam memberikan minat ataupun motivasi yang mampu
membangkitkan semangat siswa untuk belajar. Keberhasilan belajar siswa tidak
lepas dari motivasi siswa yang bersangkutan, oleh karena itu pada dasarnya
motivasi berprestasi merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan
siswa. Siswa juga akan lebih termotivasi jika dari hasil belajarnya tersebut
mendapatkan penghargaan (reward) yang
memuaskan dari guru atau pihak pengajar sebagai tanda penghargaan atas hasil
belajarnya tersebut.
Dalam proses
pembelajaran dikenal dengan istilah reward dan punishment sebagaimana
pendekatan pendidikan lainya metode reward dan punishment memiliki
kekurangan dan kelebihan, namun hampir bisa dikatakan bahwa pendekatan
reward memiliki banyak kelebihan, Armai arief mengatakan bahwa pemberian reward
memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap jiwa anak didik untuk melakukan
perbuatan yang positif dan bersikap progresif (Arief, 2002: 128). Disamping
juga dapat memberikan pendorong bagi anak didik lainya untuk mengikuti anak
yang telah memperoleh pujian dari gurunya, baik dalam tingkah laku, sopan
santun ataupun semangat dan motifasinya dalam berbuat yang lebih baik
(Arief,2002: 128). Berbeda dengan reward pemberian punisment haruslah
ditempuh sebagai jalan terakhir dalam proses pendidikan (Arief,2002: 135).
Dalam praktik
pendidikan, pernah dilakukan eksperimen yang bertujuan membandingkan antara reward
dan punishment dalam meningkatkan prestasi belajar. Eksperimen ini
dimulai dengan menentukan tiga kelompok yang akan diberi perlakuan pembelajaran
dengan metode berupa dibiarkan, diberi reward, dan diberi punishment.
Pada awal pembelajaran seluruh subjek mempunyai prestasi belajar yang relatif
sama. Setelah diberi perlakuan pada satu semester ternyata kelompok yang diberi
punishment mempunyai prestasi belajar yang lebih tinggi dibanding kelompok
yang diberi reward ataupun metode hukuman, apalagi dengan kelompok yang
dibiarkan ( http://gitabiology.blogspot.com/2009).
Dalam dunia
pendidikan, penerapan teori Maslow ini diwujudkan dengan pemberian reward
(hadiah) dan punishment (hukuman). Reward diberikan kepada siswa
yang mampu menunjukkan kinerja yang baik dalam belajar, sedangkan punishment
diberikan kepada siswa yang tidak taat terhadap peraturan. Keduanya harus
diberikan secara tepat dan seimbang. Artinya, ketika guru menemukan ada
siswanya yang melanggar aturan, maka guru perlu memberikan sanksi agar siswa
tersebut menyadari kesalahan yang telah dilakukannya dan tidak mengulangi
kesalahan yang sama. Akan tetapi, jika ada siswa yang berhasil melakukan
tugasnya dengan baik, maka guru tidak perlu sungkan untuk memberikan pujian
dalam bentuk lisan ataupun tulisan. Pemberlakuan punishment (hukuman) harus tepat dan sangat hati-hati, karena
bentuk hukuman baik berupa fisik maupun melalui perkataan sangat mungkin
diterima negatif oleh siswa meskipun sebenarnya mereka mengetahui bahwa tindakannya
keliru. Mendapatkan penghargaan ketika melakukan tindakan yang terpuji
merupakan hak siswa. Oleh karena itu tidak perlu merasa khawatir pujian akan
membuat siswa menjadi malas atau manja. Justru dengan pujian yang proporsional,
siswa memperoleh penguatan dan energi yang lebih untuk memperbaiki diri. Dengan
begitu, secara tidak langsung akan membuat wibawa guru meningkat di mata siswa.
Pemberian pujian merupakan salah satu bentuk motivasi ekstrinsik yang mempengaruhi belajar siswa. Motivasi sudah diyakini mempunyai peranan yang strategis dalam aktivitas belajar seseorang. Tidak ada seorang pun yang belajar tanpa motivasi. Tidak ada motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar. Anak didik yang mempunyai motivasi dalam belajar selalu yakin dapat menyelesaikan setiap pekerjaan yang dilakukan. Setiap ulangan yang diberikan oleh guru tidak dihadapi dengan resah gelisah, tetapi dihadapi dengan tenang dan percaya diri. Oleh karena itu pemberian reward dan Punishment akan sangat membantu siswa terutama membantu dalam hal peningkatan hasil belajar, sebab dengan mengunakan metode Reward dan punishment anak menjadi semagat dan memiliki minat yang besar terhadap motifasi belajar. Dengan demikian minat anak akan berkembang dan memiliki dapak yang positif terhadap perkembangan siswa terutama dalam mengembangkan minat sifat yang akhir dan endingnya adalah sebagai faktor pendorong motifasi untuk belajar.
Pemberian pujian merupakan salah satu bentuk motivasi ekstrinsik yang mempengaruhi belajar siswa. Motivasi sudah diyakini mempunyai peranan yang strategis dalam aktivitas belajar seseorang. Tidak ada seorang pun yang belajar tanpa motivasi. Tidak ada motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar. Anak didik yang mempunyai motivasi dalam belajar selalu yakin dapat menyelesaikan setiap pekerjaan yang dilakukan. Setiap ulangan yang diberikan oleh guru tidak dihadapi dengan resah gelisah, tetapi dihadapi dengan tenang dan percaya diri. Oleh karena itu pemberian reward dan Punishment akan sangat membantu siswa terutama membantu dalam hal peningkatan hasil belajar, sebab dengan mengunakan metode Reward dan punishment anak menjadi semagat dan memiliki minat yang besar terhadap motifasi belajar. Dengan demikian minat anak akan berkembang dan memiliki dapak yang positif terhadap perkembangan siswa terutama dalam mengembangkan minat sifat yang akhir dan endingnya adalah sebagai faktor pendorong motifasi untuk belajar.
Maka dari itu
dalam sebuah proses belajar mengajar metode apapun sebenarnya baik tinggal
bagaimana guru memanajemen dalam pengelolaan pengajaran. Seperti halnya dengan
pemberian reward dan Punishment, kalau guru mengunakan metode ini
dengan baik dan dengan cara hati hati maka jelas dan dapat dipastikan akan
memberikan minat belajar pada anak. Dengan adanya minat anak maka sesungguhnya
akan menjadikan motifasi tersendiri bagia anak yang pada akhir dari proses
pembelajaran akan dapat menghasilkan atau mendapatkan hasil belajar yang sesuai
dengan tujuan pembelajaran.
0 komentar:
Posting Komentar